Selasa, 25 Juni 2024

SIRAJA BATAK: ASAL MUASAL SUKU BATAK

Suku Batak merupakan suku terbesar ketiga di Indonesia setelah suku Jawa dan Sunda. Sekitar 3 persen penduduk Indonesia merupakan suku Batak, baik campuran ataupun campuran. Suku Batak diyakini mulai berkembang di sekitar pinggiran Danau Toba, Sumatera Utara. Pada perkembangannya, orang-orang Batak merantau lebih jauh ke Tanah Karo, Dairi, hingga ke Mandailing. Saat ini, orang Batak telah menyebar keseluruh penjuru dunia dan terus berkembang biak. 


Suku Batak pada masa pendudukan Belanda. Gambar ini tersimpan di Museum Nasional Belanda van Wereldculturen

Menurut mitos dan pengetahuan yang beredar di masyarakat, seluruh orang Batak merupakan keturunan dari seseorang yang berasal dari Banua Ginjang (dunia atas, atau bisa disebut sebagai surga). Orang tersebut dikenal sebagai Siraja Batak yang merupakan asal dari seluruh marga yang ada di Suku Batak. Selanjutnya Siraja Batak memiliki keturunan dan melahirkan marga-marga Batak yang ada hingga saat ini.

Status Siraja Batak sebagai nenek moyang orang Batak masih menjadi tanda tanya. Pertanyaan selanjutnya adalah kebenaran Siraja Batak yang berasal dari Banua Ginjang. Tentu akan sulit untuk menyatukan antara cerita turun temurun dengan fakta sebenarnya. Kisah Siraja Batak sebagai nenek moyang Batak dapat diyakini sebagai mitologi atau kepercayaan yang diyakini agama asli Batak, Parmalim. Sama seperti agama Samawi yang meyakini Adam sebagai manusia pertama, maka kisah Siraja Batak sebagai nenek moyang orang Batak dapat dimasukkan sebagai kategori yang sama.

Menariknya, istilah Siraja Batak tak pernah disebut dalam manuskrip Batak sebelum tahun 1926, dimana buku Poestaha taringot toe tarombo ni Bangso Batak karya W. Hoetagaloeng diterbitkan. Sebelum itu, istilah Siraja Batak tak terlalu familiar dicerita masyarakat Batak. Konsep Siraja Batak pada akhirnya sudah mengakar kuat dalam sejarah masyarakat Batak. Tarombo marga yang diyakini sebagian besar masyarakat Batak menempatkan Siraja Batak sebagai sumber dari segala marga Batak yang ada.

Kisah Siraja Batak dapat diyakini sebagai bagian mitologi Batak yang lahir dari kesepakatan antara para pemimpin (raja-raja), pujangga dan malim hebat Batak terdahulu dengan tujuan mulia. Mitologi Batak ini diharapkan bisa mewariskan nilai-nilai kearifan sebagai jati diri, cara hidup suku Batak guna menjamin keutuhan, keteraturan, dan kesinambungan sistem kekerabatan Bangso Batak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hasilnya pun bisa dirasakan oleh Bangso Batak hingga saat ini. Tarombo marga dapat berjalan dengan baik hingga saat ini melewati tantangan zaman dan marga-marga Batak dapat tetap eksis dan tak kehilangan jati dirinya hingga saat ini.

Silsilah Mitologi Batak tersebut sebagai berikut: Debata Mulajadi Na Bolon mempunyai tiga putera, yakni 1) Debata Batara Guru/Dewi Si Boru Pareme; 2) Dewata Soripada/Dewi Si Boru Parorot; 3) Debata Mangala Bulan/Dewi Si Boru Panuturi. 

Debata Batara Guru memperanakkan Dewa Si Raja Odapodap dan Dewi Si Boru Deak Parujar, yang menjadi pasangan suami-istri yang melahirkan pasangan Ihat Manisia dan Itam Manisia, sebagai pasangan manusia pertama. 

Ihat Manisia/Itam Manisia mempunyai tiga putera, yakni 1) Si Raja Miokmiok; 2) Si Patundal Nabegu (merantau ke utara); 3) Si Aji Lampaslampas (merantau ke Timur). Si Raja Miokmiok (Si Medan bin Abraham)/Boru Mansur Purnama mempunyai satu putera yakni Eng Banua/Boru Siuman, yang mempunyai tiga putera, yakni 1) Si Raja Ujung (Gayo-Alas); 2) Eng Banua atau Si Raja Bonangbonang/Boru Lean Balabulan; 3) Si Raja Jau (Si Niha-Si Manteu). Eng Banua atau Si Raja Bonangbonang/Boru Lean Balabulan mempunyai satu putera yakni Si Raja Tantan Debata. Si Raja Tantan Debata/Boru Pagan Siam mempunyai satu putera yakni Si Raja Batak.

Si Raja Batak/Boru Raung Siam memiliki dua putera yakni 1) Guru Tatea Bulan; 2) Raja Isumbaon. Guru Tatea Bulan/Boru Baso Burning memiliki lima putera yakni Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Malau Raja; dan lima puteri, yakni 1) Si Boru Pareme, 2) Si Boru Anting Malela (Sabungan), 3) Si Boru Biding Laut, 4) Si Boru Paromas (Sanggul Haomasan atau Si Bunga Haomasan) dan 5) Nantinjo; dan tiga di antaranya menjadi isteri Sori Mangaraja.

Si Raja Isumbaon, menikah dengan putri pamannya Si Boru Eng Nauli dari Siam, mempunyai tiga orang anak yaitu 1) Sori Mangaraja; 2) Raja Asiasi dan 3) Sangkar Somalindang. Sama dengan tradisi kakek-neneknya, hanya Sori Mangaraja (Sri Mahraj, Sansekerta) yang tinggal di sekitar Sianjur Mulamula. Sedangkan dua lagi putra Raja Isumbaon pergi merantau. Raja Asiasi (Raja Kacikaci) atau Haro ke Tanah Karo dan Sangkar Somalindang ke Pakpak-Dairi.

Tarombo Batak yang berasal dari Mitologi Batak

Kedua putra Siraja Batak, yakni Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon, lahir seluruh marga-marga yang ada di suku Batak saat ini. Nama-nama keturunan dari Siraja Batak telah terdokumentasi dengan baik, meski validitasnya masih dapat diperdebatkan. Hal tersebut dapat dilihat dari tarombo Batak yang sering terpajang di rumah-rumah orang Batak kebanyakan.

SIRAJA BATAK: ASAL MUASAL SUKU BATAK

Suku Batak merupakan suku terbesar ketiga di Indonesia setelah suku Jawa dan Sunda. Sekitar 3 persen penduduk Indonesia merupakan suku Batak...